Dalam catatan ini saya akan memulai dari penjelasan mengenai su'uzhon (lawan dari husnudzon). Rasululloh bersabda :
"Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu pendusta benar (sedusta-dusta pembicaraan). Dan janganlah kamu mendengar rahasia orang, jangan mengintip aib orang, jangan tambah menambahi harga untuk menipu, jangan saling mendengki, benci membenci dan jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara". (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).
Sedusta-dusta pembicaraan, ya karena prasangka dalam KBBI memiliki arti pendapat mengenai sesuatu yang belum mengetahui (2011:389). Ini berarti belum diketahui benar atau salah suatu dugaan atau sangkaan. Sungguh su'uzdon (berburuk sangka) dapat menimbulkan fitnah.
Di paragraph ini saya ingin mengkaitkan su'udzon dengan Q.S. An-Nur ayat 26 yang artinya sebagai berikut :
“Wanita-wanita yang jahat adalah untuk laki-laki yang jahat, dan laki-laki yang jahat adalah untuk wanita yang jahat pula; dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanitwanita yang baik pula”.
saya tidak bermaksud membicarakan mengenai jodoh, namun ada pengalaman saya yang sedikit mengaitkan antara ayat ini dengan su'udzon. jadi seperti ini ceritanya :
suatu hari saya sedang berbincang dengan teman, entah bagaimana kejadiannya, obrolan kami berdua tiba-tiba terarah ke permasalahan jodoh (eit teman saya perempuan). Saya teringat bait kalimat yang ia sampaikan, kurang lebih seperti ini "Suka heran sama cewek2 yang pakenya hotpan (gak tahu cara nulisnya), tapi dia bilang, gue pingin punya suami yang pinter agamanya, sholeh, dih apaan dia nya aja kaya gitu, masa dapat suami yang sholeh" kurang lebih seperti itu (saya tidak ingat secara detail). Mungkin dia dapat berbicara demikian, mungkin didasarkan pada ayat di atas, dan saya menanggapi dengan anggukan. Nah... beberapa waktu kemudian saya teringat cerita dari guru saya waktu SMA, masih sama, tentang perjodohan. Guru cerita, bahwa ada siswa yang menikahi siswi dan mereka sama-sama alumni SMA tempat saya sekolah. Saat itu guru saya bilang, siswa yang sholeh tapi mau menikahi siswi yang "nakal", guru saya juga sampai heran, padahal si siswa mengetahui "kartu" siswi tersebut.
Nah.... letak atau kaitannya dengan su'udzon dan husnudzon dimana???
kita mulai dengan kata HERAN, sadar atau tidak, jika kita tidak berburuk sangka alias su'udzon, mungkin kata itu tidak akan muncul. Yap!!! Keheranan guru dan teman saya masuk akal sihh, kan sudah dijelaskan oleh Q.S. An-Nur ayat 26 di atas. Namun satu hal yang perlu diingat oleh manusia, bahwa manusia tidak bisa "mengukur" hati manusia lainnya, baik menurut kita sebagai manusia belum tentu baik menurut Alloh SWT.
jadi begini, untuk cerita yang pertama (cerita saya dengan teman saya), seburuk apa pun manusia di mata kita, tetap saja kita tidak dapat melihat isi hatinya, dari keinginannya memiliki suami yang sholeh, seharusnya kita bisa melihatnya sebagai cita-cita yang cukup mulia, mungkin dia ingin dibimbing untuk lebih baik. Untuk cerita ke dua (cerita guru saya), mungkin si siswi telah berubah lebih baik, atau ya itulah hidayah dari Alloh SWT bagi si siswi agar dia berubah menjadi lebih baik, maka Alloh beri dia suami yang sholeh.
Kesimpulan :
1. Semoga kita adalah umat Muslim yang senantiasa mencari hidayah Alloh SWT tanpa lelah, serta terus memperbaiki diri.
2. Su'udzon itu sangat merugikan diri sendiri, bagaimana tidak, dari dua contoh di atas saja kita bisa melihat su'udzonmembuat kita terlalu jauh memikirkan hal yang tidak harus kita pikirkan. (lihat saja dari kata HERAN, yang akhirnya bikin kita mikir kaya gini "oh ia ya, kenapa ya?????").
3. Masih banyak lagi dampak negatif dari su'udzon, misal fitnah (ini merugikan orang lain juga), permusuhan (nanti banyak kerusuhan).
Maka dari itu marilah kita berhusnudzon, yang dapat mendatangkan manfaat. misalnya : menimbulkan rasa saling menghormati dan menghargai antar sesama makhluk Allah (manusia). Kita pun diwajibkan untuk saling bersaudara mengapa? karena bersaudara akan menambah sikap saling tolong menolong kita, sesama manusia kita tentunya saling membutuhkan, bersaudara merupakan jalan untuk mengurangi permusuhan.
demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat. mohon maaf karena masih banyak kekurangan dalam tulisan ini, kritik dan saran tentu sangat diperlukan.
sumber :
http://islamic-indo.blogspot.com/2012/06/larangan-berburuk-sangka-suudzon-dalam.html
Suharsono, dan Retnoningsih.2011.KBBI.Semarang:Widya Karya.